Gagal Sekolah Kedokteran, di Arab Saudi Digembleng Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

Posted by : cintapus December 30, 2024 Tags : Haji Agus Salim , Minangkabau , Yayasan Hadji Agus Salim

Kandasnya keinginan Agus Salim sekolah kedokteran ke Belanda seolah sudah menjadi jalan hidupnya yang kelak menjadi tokoh pergerakan, ulama, wartawan dan diplomat ulung, serta berjuluk gelar: The Grand Old Man.

Gagal sekolah ke Belanda Agus Salim mendapat tawaran ke Arab Saudi. Ini juga tidak terlepas dari peran Profesor Snouch Hurgronje, seorang orientalis dan ahli Islam asal Belanda yang ditugaskan pemerintah Belanda ke Hindia-Belanda tahun 1880.

Dikatakan Snouck Hurgronje kepada Agus Salim bahwa menjadi dokter kurang memadai. Gajinya tidak seberapa. Snouck menawari Agus Salim bekerja di Sekretariat Konsulat Belanda di Jeddah sebagai ahli terjemah dan mengurusi haji di Arab Saudi. Pekerjaan Agus Salim langsung di bawah Pemerintah Belanda.

Waktu itu tahun 1905, sementara Agus Salim lulus HBS tahun 2003. Berbekal lulusan HBS–level sekolah yang sangat elit–selama dua tahun itu Agus Salim bekerja di beberapa tempat. Di antaranya bermodalkan penguasaan Bahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis, Agus Salim sebagai penerjemah dan pembantu seorang notaris. Memasuki usianya yang 21 tahun Agus Salim bekerja di perusahaan kongsi pertambangan di Inderagiri.

Semula Agus Salim menolak tawaran bekerja di Sekretariat Konsulat Belanda di Jeddah. Agus Salim sudah berketetapan setelah lulus HBS dia tidak mau bekerja di pemerintahan Hindia-Belanda. Dia mengabaikan saran ayahnya, Sutan Muhammad Salim, supaya menerima tawaran pekerjaan tersebut.

Menurut ayahnya penugasan ini bukan dari pemerintah Hindia-Belanda namun langsung dari pemerintah Belanda. Terlebih surat penugasan sudah diterima dari Kementerian Luar Negeri Belanda dan ditandatangani oleh Sekretaris Gubernur Jenderal.

Agus Salim juga mengabaikan saran ibunya, Siti Zainab, supaya Agus Salim mengambil tawaran tersebut. Ibunya senang Agus bekerja di Jeddah. Sebelumnya sang ibu cemas Agus Salim menjadi murtad karena sekolah di sekolah Eropa dan bergaul dengan orang-orang Belanda.

Agus Salim dan ayahnya kerap berdebat soal tawaran ini. Namun hati Agus Salim luluh ketika sang ibu sakit dan tidak lama kemudian meninggal dunia.

Usia Agus Salim 22 tahun (1906) ketika sampai di Jeddah dan bekerja sebagai staf di Sekretariat Konsul Belanda. Tugasnya di antaranya mengurusi jamaah haji asal Hindia-Belanda yang kala itu sudah banyak. Sehingga Agus salim harus hilir-mudik antara Jeddah (sebagai Ibu Kota Arab Saudi) ke Makkah dan Madinah.

Dipilihnya petugas beragama Islam karena umat non-Muslim dilarang masuk ke Tanah Suci (Makkah dan Madinah).

Sebagaimana diidamkan ibunya, di Mekkah inilah Agus Salim berjumpa dengan kerabatnya yang ulama besar dan pembaharu Islam, yaitu Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Ayah Syech Ahmad Khatib, yaitu Abdul Latif Khatib, adalah saudara kandung dari kakek Agus Salim dari pihak ayah, Tuanku Abdurrahman gelar Datuk Rangkayo Besar.

Tahun 1876 Syech Ahmad Khatib meninggalkan Koto Gadang dan menetap di Mekkah, menjadi imam dan khatib juga Guru Besar di Masjidil Haram.

Banyak ulama Hindia-Belanda (Indonesia) yang belajar ke Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, di antaranya KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama). Sementara murid Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi lainnya yang berasal dari Hindia-Belanda menjadi ulama di daerah asalnya masing-masing.

Kepada pamannya inilah Agus Salim selama lima tahun belajar Islam. Agus Salim setiap tahun juga menunaikan ibadah haji.

Tujuh belas tahun kemudian Agus Salim menulis kisahnya selama di Arab Saudi di surat kabar Bendera Islam (dimuat 2 Mei 1927): “… Semasa itu keislamanku seolah-olah bawaan kebangsaan saja dan bukanlah menjadi agama keyakinan yang bersungguh-sungguh. Tetapi selama lima tahun di Saudi Arabia saya lima kali naik haji, dan bertambah dalam sikap saya terhadap agama, daripada tidak percaya menajadi syak dan daripada syak menjadi yakin mengakui keadaan Allah dan Agama Islam.”

Selama di Arab Saudi Agus Salim tidak saja memperluas pengetahuan Bahasa Arabnya, namun juga belajar Bahasa Turki. Kala itu Mekkah di bawah kekuasaan Kerajaan Turki dan mengharuskan Agus Salim bergaul dengan pegawai-pegawai tinggi Turki. Selain itu Agus Salim juga banyak belajar sebagai diplomat.

Namun selama lima tahun (1906-1911) bekerja di Jeddah juga tidak berjalan mulus. Agus Salim menghadapi pimpinannya (orang Belanda) yang tetap memperlakukan dia sebagai warga jajahan. Meski Agus Salim sudah mendapat kesetaraan status (gelijkgesteld), tetap saja diperlakukan diskiriminatif. Salah satu contoh sederhana, di kantornya Agus Salim tidak mempunyai meja kerja padahal itu sudah seharusnya didapatnya atau haknya sebagai pegawai. Akibat ketegangan dengan pimpinananya ini Agus Salim sempat mengalami sakit saraf.

Perlakuan dari atasannya ini menjadi salah satu faktor yang menumbuhkan rasa benci Agus Salim kepada penjajah.  

Tahun 1947, atau 36 tahun kemudian, Agus Salim datang lagi ke jazirah Arab, tepatnya di Mesir. Agus Salim datang dalam kapasitasnya sebagai Menteri Muda Luar Negeri. Agus Salim bersama A.R. Baswedan (Menteri Muda Penerangan), Rasyidi (Sekretaris Jenderal Kementerian Agama) dan Dr. Mr. Nazir St. Pamoentjak adalah delegasi Indonesia di Mesir.

Waktu itu, tahun 1946, Dewan Liga Arab mengeluarkan surat keputusan agar negara-negara anggotanya mengakui Republik Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Negara pertama yang menandatangani perjanjian kerjasama persahabatan dengan Indonesia adalah Mesir.

Pada 10 Juni 1947, bertempat di kantor Kementerian Luar Negeri Mesir, ditandatangani Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir, oleh Menteri Luar Negeri Mesir PM Nokrashi Pasha dan Menteri Muda Luar Negeri Republik Indonesia, Agus Salim.

Selama tiga bulan tinggal di Mesir menunggu upacara penandatanganan perjanjian tersebut Agus Salim menunjukkan kelasnya sebagai diplomat ulung yang cerdas, intelek dan brilian, juga pengetahuan agama Islam yang dalam dan luas.

Ini digambarkan oleh A.R. Baswedan. Orang-orang Mesir sangat terkesan kepada Agus Salim, bukan saja penguasaan Bahasa Arabnya, namun juga ketangkasan Agus Salim dalam berdebat.

“Begitu pula kesan dari orang-orang Mesir yang bertemu dengan beliau (Agus Salim), padahal orang Mesir dikenal sebagai tukang ngobrol, ahli debat dan silat lidah. Asyik betul kalau kita mempunyai seorang ketua delegasi semacam ini (Agus Salim),” kata Baswedan.(*)

RELATED POSTS
FOLLOW US