Petualangan di Negeri Seribu Mimpi

Posted by : cintapus February 15, 2025

 

Oleh: Rissa Churria

Setelah berhasil mengalahkan makhluk bayangan di Negeri Bayangan Mira, Arya, dan Nara melanjutkan perjalanan mereka menuju Negeri Seribu Mimpi. Negeri ini terkenal dengan keindahan dan keajaiban yang tidak ada habisnya. Setiap sudut negeri ini dipenuhi dengan keajaiban, tetapi juga penuh dengan misteri dan tantangan yang harus dihadapi.

Saat mereka memasuki negeri ini, udara terasa hangat dan aroma bunga-bunga bermekaran memenuhi udara.

“Lihat betapa indahnya tempat ini!” Nara berteriak dengan antusias.

“Ya, tetapi jangan terlena. Negeri ini terkenal dengan Penguasa Mimpi, yang bisa mengubah mimpi menjadi kenyataan, tetapi juga bisa menjadikan kenyataan menjadi mimpi buruk,” Mira mengingatkan.

Mereka melangkah lebih dalam ke Negeri Seribu Mimpi dan segera menemukan Pohon Mimpi, yang terkenal akan keajaibannya. Di bawah pohon itu, mereka melihat Sang Penjaga Mimpi, seorang lelaki tua bijak dengan jubah berwarna cerah.

“Selamat datang, para petualang! Apa yang kalian cari di Negeri Seribu Mimpi ini?” tanyanya dengan suara lembut.

“Kami ingin mencari petunjuk untuk melanjutkan perjalanan kami,” jawab Arya.

“Di negeri ini, kalian harus menghadapi Tantangan Mimpi. Hanya dengan mengatasi tantangan tersebut kalian bisa mendapatkan petunjuk yang kalian cari,” sang Penjaga menjelaskan.

“Apa tantangan itu?” tanya Nara, penuh rasa ingin tahu.

“Setiap dari kalian harus menghadapi mimpi terburuk kalian. Jika kalian berhasil mengatasinya, kalian akan mendapatkan Peta Mimpi, yang menunjukkan jalan menuju tujuan kalian,” Penjaga Mimpi menjelaskan.

Mereka saling berpandangan. Mimpi terburuk masing-masing pasti akan menjadi tantangan yang berat. Namun, mereka bertekad untuk melanjutkan.

“Kami siap menghadapi tantangan itu!” Arya menyatakan dengan percaya diri.

“Baiklah. Masuklah ke dalam Ruang Mimpi di bawah Pohon Mimpi, dan hadapilah tantangan kalian,” kata Penjaga Mimpi, mengisyaratkan mereka untuk masuk.

Mereka bertiga melangkah ke dalam Ruang Mimpi dan tiba-tiba terpisah. Arya menemukan dirinya di tengah hutan gelap, dikelilingi oleh suara-suara mengerikan. Ia melihat bayangan kelam yang mendekatinya. Bayangan itu adalah ketakutannya, sosok yang terus mengejarnya.

“Kau tidak akan pernah bisa melarikan diri!” suara bayangan itu mengancam

“Aku tidak takut padamu! Aku adalah petualang yang berani!” Dengan hati yang berdebar, Arya berusaha menenangkan dirinya.

Ia berlari melawan bayangan dan akhirnya menyadari bahwa ketakutan itu tidak lebih dari ilusi. Dengan keberanian, ia menghadapinya dan berteriak.

“Aku akan mengalahkanmu!” Bayangan itu memudar, dan Arya pun berhasil keluar dari hutan.

Sementara itu, Mira mendapati dirinya di dalam sebuah ruangan gelap, di mana ia mendengar suara ibunya yang merintih. Suara lirih tak berdaya terdengar sangat menyayat hati.

“Mira, tolong! Bantulah aku!” Suara itu terus memanggilnya.

“Mama!” Mira berlari ke arah suara, tetapi semakin dekat, sosok itu semakin kabur.

“Ini hanya ilusi!” Mira berusaha mengingat apa yang telah diajarkan Arya dan Nara. Dengan tekad, ia menenangkan dirinya.

“Ibu, aku tidak bisa membantumu jika aku terjebak di sini. Aku harus pergi!” Dengan sekuat tenaga, ia melawan ilusi tersebut dan menemukan kekuatannya. Ketika sosok ibunya memudar, Mira pun berhasil keluar dari ruang gelap itu.

Nara, di sisi lain, menemukan dirinya di atas panggung yang terang benderang, tetapi dikelilingi oleh para penonton yang menertawakan dan mengolok-oloknya.

“Kau tidak akan pernah bisa berprestasi!” teriak mereka. Naraa merasa semua harapannya hancur, tetapi dia teringat akan dukungan dari Arya dan Mira.

“Aku tidak akan membiarkan kalian mengalahkanku!” Nara berseru, berusaha mengingat semua latihan dan perjuangannya.

Dengan semangat, ia mulai menari dan menyanyikan lagu yang selama ini dia latih. Saat penonton terdiam dan mendengarkan, kekuatan positif mengalir melalui dirinya. Dalam sekejap, mereka semua menghilang, dan Nara pun berhasil keluar dari tantangan.

Setelah melewati tantangan masing-masing, mereka bertiga berkumpul kembali di luar Ruang Mimpi. Saling menenangkan debar yang sejak awal seperti akan memcahkan jantung dan hati.

“Kita berhasil!” Nara bersorak, berpelukan.

“Sekarang, kita harus mencari Peta Mimpi yang dijanjikan,” Arya mengingatkan sebelum mereka kembali ke hadapan Penjaga Mimpi. Ada senyum bangga yang membayang di bibirnya.

“Selamat, kalian telah berhasil mengatasi tantangan kalian. Sekarang, terimalah Peta Mimpi ini,” katanya sambil menyerahkan gulungan peta bercahaya.

Arya, Nara, dan Mira membuka peta itu dan melihat jalur yang mengarah ke Gunung Harapan, tempat di mana mereka akan menemukan kunci untuk membuka gerbang menuju petualangan berikutnya.

“Terima kasih, Penjaga Mimpi! Kami tidak akan melupakan pelajaran ini!” Arya berkata penuh rasa syukur.

“Semoga mimpi-mimpi indah selalu menyertai perjalanan kalian. Ingatlah, mimpi adalah kekuatan yang tidak boleh diabaikan,” jawab Penjaga Mimpi dengan senyuman.

Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Gunung Harapan, dipenuhi semangat baru dan harapan. Petualangan demi petualangan terus menunggu, dan mereka siap untuk menghadapi setiap tantangan yang akan datang.

Dengan tekad yang lebih kuat, mereka melangkah maju, mengetahui bahwa bersama-sama, mereka dapat mengatasi segala rintangan dan mewujudkan mimpi-mimpi besar mereka.(*)

 

PENULIS

Rissa Churria adalah pendidik, penyair, esais, pelukis, aktivis kemanusiaan, pemerhati masalah sosial budaya, pengurus Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), pengelola Rumah Baca Ceria (RBC) di Bekasi, anggota Penyair Perempuan Indonesia (PPI), saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat, sudah menerbitkan 7 buku kumpulan puisi tunggal, 1 buku antologi kontempelasi, serta lebih dari 100 antologi bersama dengan para penyair lainnya, baik Indonesia maupun mancanegara. Rissa Churria adalah anggota tim digital dan siber di bawah pimpinan Riri Satria, di mana tugasnya menganalisis aspek kebudayaan dan kemanusiaan dari dunia digital dan siber.

RELATED POSTS
FOLLOW US