
Penulis: Rissa Churria
Setelah menyeimbangkan kekuatan es dan api, Mira, Arya, dan Nara melanjutkan perjalanan mereka ke Negeri Bayangan, tempat di mana cahaya dan kegelapan bertarung abadi. Negeri ini terkenal karena ilusi dan tantangan yang dapat membingungkan bahkan yang paling berani sekalipun. Penduduknya adalah makhluk yang dapat mengubah bentuk dan memanipulasi cahaya, menjadikan perjalanan ke negeri ini penuh misteri dan bahaya.
Ketika mereka melangkah ke Negeri Bayangan, suasana menjadi gelap dan penuh kabut.
“Apa yang terjadi? Kenapa semua terlihat samar?” Arya bertanya, mencoba melihat dengan jelas di antara bayangan yang bergerak.
“Itulah yang membuat negeri ini unik. Bayangan dapat membuat kita kehilangan arah,” jawab Nara dengan hati-hati.
“Bersiaplah! Kita harus tetap bersatu dan waspada!” Mira mengingatkan, menatap jauh ke depan.
Saat mereka melangkah lebih jauh, tiba-tiba mereka dikelilingi oleh makhluk bayangan yang tampak menyeramkan. Makhluk-makhluk ini adalah Penguasa Bayangan, yang mampu mengubah bentuk sesuai keinginan mereka.
“Siapa kalian yang berani memasuki negeri kami?” salah satu makhluk bayangan berbicara, suaranya teredam dalam kegelapan.
“Kami adalah petualang yang ingin mencari cahaya di negeri ini! Kami tidak ingin melawan, kami hanya ingin menjelajahi,” Mira menjelaskan dengan tegas.
Penguasa Bayangan menatap mereka, lalu mengangguk. “Jika kalian ingin menjelajah, kalian harus melalui Lautan Ilusi. Hanya yang memiliki hati yang tulus dan berani yang dapat menemukan jalan keluar.”
“Lautan Ilusi?” Nara bertanya, penasaran.
“Ya, di dalamnya terdapat banyak jebakan dan ilusi yang dapat menyesatkan. Kalian harus menemukan Bintang Penuntun untuk menunjukkan jalan keluar,” makhluk bayangan itu menjelaskan sebelum menghilang ke dalam kegelapan.
“Baiklah, mari kita hadapi tantangan ini,” Arya memimpin. Mereka mulai melangkah menuju Lautan Ilusi, yang dipenuhi dengan kabut tebal dan suara-suara aneh.
Di tengah perjalanan, kabut mulai membentuk berbagai ilusi. Nara melihat sosok yang mirip ibunya di kejauhan.
“Ibu!” serunya, berlari ke arah sosok itu. Namun, saat ia mendekat, sosok itu menghilang menjadi kabut.
“Nara! Jangan terjebak!” Mira berteriak, menarik tangan Nara kembali.
“Itu hanya ilusi!”
“Aku tahu! Tapi itu sangat nyata!” Nara menjawab, masih terpengaruh.
“Jangan biarkan diri kita terjebak dalam ilusi ini. Kita harus mencari Bintang Penuntun,” Arya menegaskan, berusaha membangkitkan semangat mereka.
Setelah beberapa saat berjuang melawan ilusi yang terus menghantui mereka, mereka akhirnya menemukan Bintang Penuntun, yang bersinar terang di antara gelapnya Lautan Ilusi. Bintang itu memiliki cahaya yang lembut dan hangat, dan ketika mereka mendekatinya, cahaya itu membimbing mereka keluar dari lautan.
Namun, saat mereka berusaha mendekat, tiba-tiba muncul Raksasa Kegelapan, makhluk besar yang menjaga Bintang Penuntun.
“Kalian tidak akan melewati ini!” teriaknya dengan suara menggema.
“Kami hanya ingin mendapatkan cahaya untuk membantu negeri kami!” Mira berusaha menjelaskan.
“Untuk mendapatkan cahaya, kalian harus melewati Tantangan Kegelapan. Hanya yang bisa mengatasi kegelapan dalam diri mereka yang dapat mengambil Bintang Penuntun,” Raksasa Kegelapan mengancam.
“Tantangan apa itu?” tanya Arya.
“Setiap dari kalian harus menghadapi ketakutan terdalam kalian. Jika kalian gagal, kalian akan terjebak dalam kegelapan selamanya,” Raksasa Kegelapan menjelaskan.
“Baiklah, kami siap!” Arya menyatakan dengan tegas.
Raksasa Kegelapan kemudian memanggil bayangan yang menggambarkan ketakutan mereka.
Ketakutan Arya muncul dalam bentuk makhluk mengerikan, sosok yang menyerupai hantu dengan mata menyala. Arya harus berjuang melawan rasa takutnya.
“Aku tidak takut padamu! Aku adalah pahlawan!” teriaknya.
Ketakutan Mira muncul dalam bentuk bayangan ibunya yang tampak sedih dan hilang. Mira harus berjuang melawan kesedihan dan berkata, “Ibu! Aku akan menemukannya! Aku tidak akan menyerah!”
Ketakutan Nara muncul sebagai bayangan dirinya yang gagal dalam petualangan. Dia berusaha melawan bayangannya dan berteriak.
“Aku mampu! Aku bisa melakukannya!”
Dengan keberanian dan keteguhan hati, mereka semua berhasil mengatasi ketakutan mereka. Ketika mereka melakukannya, Raksasa Kegelapan tertegun.
“Kalian benar-benar kuat! Ambil Bintang Penuntun!” kata Raja Kegelapan.
Dengan hati-hati, Mira mengambil Bintang Penuntun, dan seketika, cahaya menyebar ke seluruh Lautan Ilusi, menghilangkan kegelapan dan ilusi yang mengelilingi mereka.
“Sekarang, kita dapat menemukan jalan keluar!” Arya berseru, penuh semangat.
Mereka mengikuti cahaya Bintang Penuntun dan berhasil menemukan jalan keluar dari Lautan Ilusi. Saat mereka melangkah keluar, mereka tiba di sebuah padang luas yang dipenuhi cahaya matahari.
“Ini dia! Kami berhasil!” Nara bersorak gembira.
Tetapi, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Tiba-tiba, tanah mulai bergetar, dan makhluk bayangan yang marah muncul kembali.
“Kalian tidak boleh pergi dengan Bintang Penuntun!” teriak mereka.
Dengan cepat Mira, Arya, dan Nara bersatu dan menggunakan kekuatan Bintang Penuntun untuk menciptakan pelindung cahaya di sekitar mereka. Mereka berjuang melawan makhluk bayangan, menggunakan semua keberanian dan kepercayaan diri yang telah mereka pelajari.
Dalam pertarungan yang sengit, cahaya Bintang Penuntun menyala lebih terang, membakar kegelapan dan membuat makhluk bayangan melarikan diri.
“Kita bisa melakukannya!” Arya berteriak.
Akhirnya, dengan satu ledakan cahaya yang kuat, mereka berhasil mengalahkan makhluk bayangan dan membuatnya melarikan diri ke dalam kegelapan.
“Mari kita lanjutkan perjalanan kita! Masih banyak yang harus kita temui!” Arya berseru.
Dengan semangat baru, mereka meninggalkan Negeri Bayangan, membawa Bintang Penuntun yang kini bersinar lebih terang dari sebelumnya. Mereka telah belajar bahwa ketakutan dapat dihadapi dan dikalahkan dengan keberanian dan persahabatan.
Dengan perasaan penuh harapan, mereka melanjutkan perjalanan menuju petualangan selanjutnya, siap untuk tantangan yang lebih besar dan menarik di depan mereka.(*)
PENULIS
Rissa Churria adalah pendidik, penyair, esais, pelukis, aktivis kemanusiaan, pemerhati masalah sosial budaya, pengurus Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), pengelola Rumah Baca Ceria (RBC) di Bekasi, anggota Penyair Perempuan Indonesia (PPI), saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat, sudah menerbitkan 7 buku kumpulan puisi tunggal, 1 buku antologi kontempelasi, serta lebih dari 100 antologi bersama dengan para penyair lainnya, baik Indonesia maupun mancanegara. Rissa Churria adalah anggota tim digital dan siber di bawah pimpinan Riri Satria, di mana tugasnya menganalisis aspek kebudayaan dan kemanusiaan dari dunia digital dan siber.
