Petualangan di Gunung Harapan

Posted by : cintapus February 22, 2025

 

Oleh Rissa Churria 

Setelah menerima Peta Mimpi dari Penjaga Mimpi, Arya, Nara, dan Mira melanjutkan perjalanan mereka menuju Gunung Harapan. Gunung ini terkenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan, tetapi juga memiliki reputasi sebagai tempat yang penuh dengan tantangan dan makhluk misterius. Mereka berjalan dengan semangat tinggi, siap untuk menghadapi petualangan selanjutnya.

Saat mereka mendekati kaki Gunung Harapan, suasana berubah. Udara menjadi lebih dingin, dan kabut mulai menyelimuti area sekitar.

“Apakah kalian merasakan ini? Sepertinya ada sesuatu yang aneh di sekitar sini,” kata Mira, menatap ke sekeliling dengan waspada.

“Ya, kita harus tetap waspada,” Arya menjawab.

“Kita tidak tahu apa yang akan menunggu kita di atas sana.” lanjutnya.

Mereka mulai mendaki gunung, dan seiring dengan meningkatnya ketinggian, kabut semakin tebal. Tiba-tiba, suara gemuruh menggelegar terdengar dari atas, membuat tanah bergetar di bawah kaki mereka.

“Apa itu?” Nara bertanya, wajahnya pucat.

“Sepertinya suara dari atas gunung. Kita harus cepat!” Arya mengisyaratkan agar mereka bergerak lebih cepat. Namun, saat mereka bergerak, mereka disambut oleh sesosok makhluk besar dengan tubuh berwarna abu-abu dan mata berapi. Makhluk itu adalah Penguasa Gunung, makhluk yang mengawasi gunung dan semua yang berada di dalamnya.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” suara beratnya menggema, seolah-olah bergetar di udara.

“Kami mencari Kunci Harapan untuk melanjutkan perjalanan kami!” Nara menjawab, berusaha mengatasi ketakutannya.

“Banyak yang telah mencoba dan gagal. Hanya yang paling berani yang bisa melewati ujian di puncak gunung ini,” Penguasa Gunung mengancam, mengangkat satu telapak tangannya yang besar, menandakan bahwa mereka harus menghadapi tantangan yang lebih besar.

“Ujian apa yang harus kami hadapi?” Mira bertanya, penuh semangat.

“Ujian ini akan menguji keberanian dan kejujuran kalian. Kalian harus menjawab teka-teki yang akan aku berikan. Jika kalian gagal, kalian akan terjebak selamanya di dalam kabut ini!” katanya dengan suara mengerikan.

Mereka bertiga saling berpandangan, menyadari betapa pentingnya untuk bisa melewati ujian ini. Namun setelah mengingat apa yang telah mereka lalui sebelumnya,  seperti ada semangat yang tiba-tiba membara di diri mereka.

“Kami siap!” Arya menegaskan.

“Baiklah. Ini adalah teka-teki pertama: ‘Aku memiliki banyak wajah, tetapi tidak memiliki mata. Aku bisa membuatmu tertawa atau menangis. Apa aku?’” Penguasa Gunung menyampaikan teka-teki itu.

“Ini mudah! Itu adalah mimpi!” Nara menjawab cepat. Penguasa Gunung mengangguk, tanda bahwa jawaban itu benar.

“Teka-teki kedua: Aku bisa terbang tanpa sayap, bisa menangis tanpa mata. Apa aku?” Penguasa Gunung menantang lagi.

“Ini juga mudah! Itu adalah awan!” Nara menambahkan, dan sekali lagi, Penguasa Gunung mengangguk dengan senyum kecil.

“Bagus, kalian telah melewati dua teka-teki. Sekarang untuk yang terakhir. Ini adalah yang paling sulit: Aku bisa dihancurkan dengan mudah, tetapi dapat menciptakan kekuatan yang besar. Apa aku?” Suara Penguasa Gunung menggema lebih keras, dan ketiganya terdiam, berpikir keras.

“Ini sulit .…” Arya berkata, mengerutkan dahi. Mereka berusaha mencari jawaban yang tepat, tetapi semua jawaban tampaknya salah.

“Waktu kalian hampir habis!” Penguasa Gunung memperingatkan dengan suara mengerikan.

“Apa yang bisa dihancurkan tetapi menciptakan kekuatan?” Nara berusaha berpikir.

Tiba-tiba dia teringat saat mereka mengalahkan makhluk bayangan di Negeri Bayangan. Senyumnya pun tergambar di wajahnya yang sejak tadi tegang.

“Aku tahu! Itu adalah harapan! Harapan bisa hancur, tetapi juga bisa memberi kekuatan kepada orang-orang!” Nara berkata dengan penuh keyakinan.

“Jawaban yang tepat! Kalian telah melewati ujian ini. Kalian layak mendapatkan Kunci Harapan.” Penguasa Gunung terdiam sejenak, lalu mengangguk.

Ia menggerakkan tangannya, dan sebuah cahaya bersinar dari dalam tubuhnya. Dari situ muncul sebuah kunci berkilau yang terbuat dari cahaya.

“Kunci ini akan membimbing kalian ke tujuan berikutnya. Ingat, harapan selalu ada di mana saja, tidak peduli betapa gelapnya situasi,” Penguasa Gunung mengingatkan mereka sebelum menghilang ke dalam kabut.

“Terima kasih, Penguasa Gunung!” seru mereka bertiga bersamaan.

Mereka melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. Dengan kunci di tangan, mereka merasakan semangat dan harapan baru mengalir dalam diri mereka. Namun, saat mereka mencapai puncak, mereka disambut oleh sebuah pemandangan menakjubkan: sebuah danau yang indah, dikelilingi oleh cahaya emas. Di tengah danau, mereka melihat sebuah pulau kecil dengan sebuah pintu besar yang tertutup rapat.

“Itu pasti gerbang menuju tempat berikutnya!” Mira berseru.

Mereka berlari ke arah danau. Tetapi ketika mereka hampir sampai, kabut tiba-tiba menyelimuti danau, dan suara gelombang menggema, menciptakan ombak yang menghalangi jalan mereka.

Mereka harus menemukan cara untuk melewati ombak tersebut. Nara ingat apa yang diajarkan oleh Penjaga Mimpi: “Mimpi adalah kekuatan!” Dia mengusulkan untuk bersama-sama menggunakan kekuatan harapan dan mimpi mereka untuk menciptakan perahu dari cahaya.

Dengan cepat, mereka berkonsentrasi dan membayangkan perahu yang terbuat dari cahaya. Dalam sekejap, perahu bercahaya muncul di hadapan mereka. Mereka bertiga melompat ke perahu dan mulai mendayung melawan arus yang kuat.

“Ini lebih sulit dari yang kita bayangkan!” Arya berteriak, mendayung sekuat tenaga. Nara dan Mira membantu dengan semangat, dan bersama-sama, mereka mengarungi danau yang berombak.

Setelah perjuangan yang panjang, mereka akhirnya mencapai pulau kecil di tengah danau. Dengan napas terengah-engah, mereka melangkah menuju pintu besar yang terbuat dari batu dan tertutup rapat.

“Ini saatnya untuk menggunakan Kunci Harapan!” Mira berkata, mengangkat kunci tersebut. Ia memasukkannya ke dalam lubang kunci, dan pintu itu bergetar sejenak sebelum terbuka dengan suara gemuruh.

Di dalam, mereka menemukan ruangan yang dipenuhi dengan cahaya cerah dan simbol-simbol kuno yang berkilau di dinding. Di tengah ruangan, ada Kitab Harapan, yang berisi semua pengetahuan dan kekuatan untuk melanjutkan petualangan mereka.

“Akhirnya, kita menemukannya!” Mira bersorak.

Namun, saat mereka mendekati kitab, suara mengerikan menggema di ruangan itu. Ketiga kakak beradik iti merinding karena saking takutnya.

“Siapa pun yang mencoba mengambil kitab ini harus siap untuk menghadapi konsekuensinya!” suara itu berteriak.

“Kita tidak akan mundur! Kita telah melewati banyak rintangan, dan kita bisa melakukannya!” Arya menggerakkan semangat sambil mengingat semua pelajaran dan pengalaman yang mereka dapatkan.

Dengan keberanian dan harapan, mereka melangkah maju, siap untuk menghadapi tantangan terakhir di Gunung Harapan. Perjuangan mereka belum berakhir, tetapi dengan keyakinan dan persahabatan yang kuat, mereka bersiap untuk menaklukkan apa pun yang menghadang mereka.(*)

 

TENTANG PENULIS

Rissa Churria adalah pendidik, penyair, esais, pelukis, aktivis kemanusiaan, pemerhati masalah sosial budaya, pengurus Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), pengelola Rumah Baca Ceria (RBC) di Bekasi, anggota Penyair Perempuan Indonesia (PPI), saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat, sudah menerbitkan 7 buku kumpulan puisi tunggal, 1 buku antologi kontempelasi, serta lebih dari 100 antologi bersama dengan para penyair lainnya, baik Indonesia maupun mancanegara. Rissa Churria adalah anggota tim digital dan siber di bawah pimpinan Riri Satria, di mana tugasnya menganalisis aspek kebudayaan dan kemanusiaan dari dunia digital dan siber.

RELATED POSTS
FOLLOW US