
Oleh Rissa Churria
Setelah berhasil membuka pintu yang mengarah ke Kitab Harapan, Mira, Arya, dan Nara melangkah masuk ke dalam ruangan berkilau yang dipenuhi cahaya magis. Di tengah ruangan berdiri Kitab Harapan, dengan halaman-halamannya yang bergetar seolah menyambut mereka. Namun, tak lama setelah mereka melangkah lebih dekat, suara mengerikan itu kembali menggema.
“Siapa pun yang berani mengambil Kitab Harapan, harus bersiap untuk menghadapi Penguasa Kegelapan!” suara itu menggeram, dan mendadak ruangan menjadi gelap gulita. Angin kencang berputar-putar, dan bayangan gelap mulai muncul di sudut-sudut ruangan.
“Siapa Penguasa Kegelapan?” Nara bertanya, ketakutan.
“Apa yang akan terjadi jika kita menghadapinya?” lanjutnya dengan suara bergetar.
“Dulu, dia adalah penjaga keseimbangan antara harapan dan kegelapan. Namun, ia berkhianat dan sekarang berusaha menguasai semua harapan dan menjadikannya miliknya,” Mira menjelaskan, mencoba mengingat kisah yang pernah dia dengar.
Tiba-tiba, dari kegelapan, muncul sosok tinggi dengan jubah hitam yang berkibar-kibar. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi mata merah menyala menatap mereka dengan penuh kebencian.
“Kalian berpikir bisa menguasai Kitab Harapan? Kalian akan menyesal!” teriaknya, suaranya menggema dengan kemarahan.
“Tidak, kami tidak akan menyerah! Kami datang ke sini untuk membawa harapan bagi dunia!” Arya berteriak kembali, berusaha mengusir ketakutannya.
Pertarungan pun dimulai. Penguasa Kegelapan meluncurkan serangan gelap berupa energi hitam yang berputar-putar cepat, menyentuh dinding dan menciptakan lubang besar. Mereka bertiga berusaha menghindar dan melawan. Arya menggunakan kekuatan mimpinya untuk menciptakan perisai dari cahaya, sementara Mira dan Nara bekerja sama untuk mengeluarkan serangan yang berfokus pada kegelapan.
“Bersama! Kita harus bersatu!” Mira berteriak, dan mereka berusaha untuk saling mendukung, saling menguatkan.
Namun, Penguasa Kegelapan tampak lebih kuat dari yang mereka bayangkan. Ia mulai mengejek mereka.
“Kalian tidak tahu apa yang kalian hadapi. Harapan itu lemah. Kegelapan akan selalu menang!” Dia menyerang dengan lebih kuat, dan Arya terlempar jauh ke dinding, terjatuh dengan kesakitan.
“Nara! Mira! Kita tidak boleh menyerah!” Arya berteriak, berusaha bangkit meskipun tubuhnya terasa lemah. Nara dan Mira tidak menyerah. Mereka berlari menuju Arya dan membantunya berdiri.
“Kita harus menggunakan kekuatan Kitab Harapan!” Nara berkata.
“Kita perlu membangkitkan kekuatan harapan dalam diri kita!”
Mereka berpegangan tangan, membentuk lingkaran, dan mulai memusatkan energi mereka. Mereka membayangkan semua harapan yang mereka miliki, kenangan indah, impian, dan cinta yang mereka rasakan satu sama lain. Cahaya mulai bersinar dari mereka, menciptakan aura yang kuat di sekitar mereka.
Apa ini? Kekuatan bodoh! Kegelapan akan menghancurkan semuanya!” Penguasa Kegelapan terbatuk, terkejut melihat cahaya itu.
Dia meluncurkan serangan terkuatnya. Tetapi cahaya yang terpancar dari mereka bertiga menahan serangan itu.
“Mari kita buktikan bahwa harapan selalu lebih kuat!” Arya berteriak, dan mereka semua mengalirkan semua kekuatan harapan ke dalam satu serangan.
Dengan berani, mereka melawan balik dengan cahaya yang menyilaukan. Cahaya tersebut membentuk gelombang besar yang menyapu semua kegelapan, dan mengalahkan serangan Penguasa Kegelapan.
“TIDAK!” teriaknya, saat cahaya itu mengelilinginya dan mengikis kekuatan kegelapannya.
Ketika cahaya menyentuhnya, bayangannya mulai menghilang. Sebelum bayangan itu benar-benar hilang terdengar kembali suara mengerikan yang penuh ancaman.
“Kalian mungkin telah mengalahkanku, tetapi ingatlah, kegelapan akan selalu ada. Kalian harus siap menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan!” dan dalam sekejap, Penguasa Kegelapan menghilang dalam awan asap hitam.
“Kita berhasil!” Mira bersorak, air mata bahagia mengalir di pipinya lalu memeluk kedua saudaranya dengan napas yang masih terengah-engah.
“Ya, kita melakukannya bersama-sama!” Nara menambahkan, tersenyum lebar. Mereka berbalik menuju Kitab Harapan, yang kini bersinar cerah.
Mira mendekati kitab tersebut, membuka halaman-halamannya. Sebuah cahaya muncul, memancarkan pesan harapan yang penuh makna.
“Ini adalah kekuatan yang akan membimbing kita untuk melawan segala kegelapan di masa depan.” Kata Mira penuh harapan.
Mereka melihat ke dalam kitab dan menemukan informasi tentang Sumber Harapan, yang terletak di tempat yang jauh dan membutuhkan keberanian untuk mencapainya.
“Kita harus menemukan Sumber Harapan untuk menjaga keseimbangan antara harapan dan kegelapan,” Arya menyatakan dengan tegas.
“Ya, ini adalah awal dari petualangan baru kita!” Nara menambahkan, penuh semangat.
Dengan tekad yang kuat, mereka berjanji untuk saling mendukung dan menghadapi setiap tantangan yang akan datang. Kitab Harapan kini menjadi panduan mereka, dan perjalanan mereka menuju Sumber Harapan dimulai.
Mereka melangkah keluar dari ruangan itu dengan penuh harapan, mengetahui bahwa meskipun perjalanan ini penuh tantangan dan kesulitan, harapan akan selalu menyertai mereka. Mereka bertiga siap menghadapi apapun yang datang di depan mereka, bersatu dalam keberanian dan persahabatan, dan melangkah ke petualangan selanjutnya.
PENULIS
Rissa Churria adalah pendidik, penyair, esais, pelukis, aktivis kemanusiaan, pemerhati masalah sosial budaya, pengurus Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), pengelola Rumah Baca Ceria (RBC) di Bekasi, anggota Penyair Perempuan Indonesia (PPI), saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat, sudah menerbitkan 7 buku kumpulan puisi tunggal, 1 buku antologi kontempelasi, serta lebih dari 100 antologi bersama dengan para penyair lainnya, baik Indonesia maupun mancanegara. Rissa Churria adalah anggota tim digital dan siber di bawah pimpinan Riri Satria, di mana tugasnya menganalisis aspek kebudayaan dan kemanusiaan dari dunia digital dan siber.
